
Ilusrasi penyerang legendaris Brasil sekaligus pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1938, Leonidas da Silva. (TVRI/Grafis Dede Mauladi)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - Roma, Italia
Leonidas dikenal bukan hanya karena gol-golnya, tetapi juga sebagai pelopor tendangan salto, teknik yang kini menjadi ikon dalam sepak bola modern.
Langit musim panas 4 Juni 1938 menggantung cerah di berbagai kota Prancis yang menjadi tuan rumah Piala Dunia, sementara ribuan penonton berdesakan di tribune kayu untuk menyambut babak pertama turnamen yang penuh gairah ini.
Atmosfernya bukan sekadar pertandingan melainkan panggung drama sepak bola global yang baru hidup lagi setelah keheningan panjang. Di tengah riuh sorak itu berdirilah seorang pria yang akan menjadi legenda, Leonidas da Silva.
Dipanggil Black Diamond, ia bukan hanya pemain Brasil biasa. Melainkan juga simbol kelincahan, keberanian, dan gairah sepak bola yang tak kenal kompromi.
Stadion Stade de la Meinau di Strasbourg menjadi saksi pertama bakatnya pada 5 Juni 1938 ketika Brasil menghadapi Polandia dalam salah satu pertandingan paling spektakuler sepanjang sejarah Piala Dunia. Suasana stadion dipenuhi tepuk tangan saat pemain Brasil dan Polandia saling serang.
Guratan debu dan tanah yang basah mewarnai lapangan, sementara bola memantul liar di bawah sorotan matahari yang memanaskan hati penonton. Leonidas, dengan kecepatan luar biasa, mencetak gol pertama Brasil yang membuka awal laga epik tersebut.
Polandia tak gentar. Ernest Wilimowski, striker tajam mereka, membalas dengan tiga gol yang mengguncang pertahanan Brasil dan membuat skor berayun bak roller coaster yang berakhir 4‑4 pada waktu normal. Penonton terengah‑engah melihat ketegangan yang tak pernah surut.
Ketika tambahan waktu dimulai, stadion seakan runtuh dalam pekikan semangat. Leonidas kembali menusuk ke barisan belakang Polandia dan mengunci kemenangan 6–5, mencetak dua gol di babak tambahan, membawa Brasil ke fase berikutnya.
Hari demi hari, Brasil bergerak maju dalam turnamen, dan 12 Juni 1938 menjadi babak yang tak terlupakan di Bordeaux. Stadion Parc Lescure dipenuhi lebih dari 22.000 suporter ketika Brasil berhadapan dengan Cekoslowakia, sebuah laga yang kemudian dikenal sebagai The Battle of Bordeaux karena fisik kerasnya permainan.
Bukan hanya kemampuan yang dipertaruhkan, tetapi juga keberanian. Cedera, tekel keras, dan pelanggaran keras semakin mempertebal tegangan pertandingan. Leonidas mencetak gol lewat serangan kilat, menyeimbangkan skor 1–1 di depan sorak gemuruh penonton Prancis dan Eropa yang menahankan napas sehingga terpaksa memainkan laga ulangan.
Dua hari kemudian, Brasil dan Cekoslowakia kembali bertemu dalam pertandingan ulangan. Angin tegang berputar di Parc Lescure, dan Leonidas, dengan naluri predatornya, sekali lagi mencetak gol penting yang membawa Brasil menang 2–1 dan melangkah ke semifinal.
Saat semifinal melawan juara bertahan Italia di Marseille, stadion dipenuhi warna hitam dan biru jersey Italia serta sorakan keras pendukungnya. Sayang, keputusan pelatih Brasil memilih tidak menurunkan Leonidas di laga ini dan dianggap menjadi kunci kekalahan 1-2 dari Italia.
Meski gagal ke final, Brasil tak keluar dengan tangan kosong. Pada laga perebutan tempat ketiga melawan Swedia, ribuan penonton kembali memadati Parc des Princes, menyaksikan Leonidas mencetak dua gol di tengah sorak sorai dan tepuk tangan yang membahana. Brasil menang 4–2 dan naik podium ketiga.
Sementara itu, di 19 Juni 1938, final yang digelar di Stade Olympique de Colombes, Paris menghadirkan tensi lain. Italia melawan Hungaria, disaksikan oleh sekitar 45.000 penonton yang bergemuruh. Italia menang 4–2 dan mempertahankan gelar juara dunia mereka sekali lagi.
Leonidas, dengan 7 gol sepanjang turnamen, lebih dari sekadar angka. Gol‑golnya termasuk ketika ia bahkan mencetak gol saat hampir tanpa sepatu karena lapangan yang berlumpur membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya tentang fisik, tetapi jiwa dan petualangan.
Sejatinya Leonidas tak hanya bersinar sendirian. Penyerang-penyerang Eropa seperti Gyorgy Sarosi dan Gyula Zsengeller dari Hungaria serta Silvio Piola yang memperkuat Italia mengejar gelar pencetak gol terbanyak, yang masing-masing menorehkan lima gol. Namun, kecepatan, insting, dan teknik Leonidas membuatnya unggul dan merebut Sepatu Emas Piala Dunia 1938.
Selain itu, Leonidas dikenal bukan hanya karena gol-golnya, tetapi juga sebagai pelopor tendangan salto (bicycle kick), teknik yang kini menjadi ikon dalam sepak bola modern. Kecil secara fisik tapi raksasa di lapangan, setiap gol dan gerakannya memikat penonton dan menginspirasi generasi berikutnya.
Di tribune, para penonton masih membicarakan namanya setelah pertandingan usai, sorak tak kunjung padam, sementara Leonidas berjalan keluar lapangan. Bukan hanya sebagai pencetak gol terbanyak, tetapi sebagai legenda sejati Piala Dunia 1938, simbol dari kecepatan, kreativitas, dan semangat indah dari ajang itu sendiri.
Editor: Muhammad Ridwan
