
Presiden FIFA Gianni Infantino
Penulis: Fityan
TVRINews – Zurich
Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan peran sepak bola sebagai pemersatu bangsa di tengah gejolak geopolitik global.
Dalam pertemuan Dewan FIFA yang berlangsung di markas besar FIFA, Zurich, Swiss, federasi sepak bola dunia tersebut kembali mempertegas komitmennya terhadap perdamaian dan persatuan global.
Di tengah dinamika geopolitik yang terus berlanjut, Presiden FIFA Gianni Infantino menyerukan agar sepak bola tetap menjadi jembatan penghubung antar bangsa.
Meskipun mengakui keterbatasan organisasi dalam ranah politik praktis, Infantino menekankan bahwa kekuatan olahraga, khususnya Piala Dunia, memiliki dampak sosial yang signifikan dalam mempromosikan kerukunan.
"FIFA tidak dapat menyelesaikan konflik geopolitik, namun kami berkomitmen untuk menggunakan kekuatan sepak bola dan Piala Dunia FIFA untuk membangun jembatan dan mempromosikan perdamaian," ujar Infantino dalam pernyataan resminya.
Ia juga menambahkan bahwa simpati mendalam ditujukan bagi mereka yang menderita akibat perang yang sedang berlangsung. FIFA berharap seluruh tim yang berkompetisi di Piala Dunia mendatang dapat bertanding dengan semangat fair play dan saling menghormati.
Lonjakan Investasi dan Rekor Pendapatan
Selain isu kemanusiaan, Dewan FIFA secara bulat menyetujui Laporan Tahunan 2025. Salah satu poin krusial adalah target pendapatan pemecah rekor sebesar USD 14 miliar (sekitar Rp220 triliun) untuk siklus 2027-2030.
Seluruh pendapatan ini direncanakan akan diinvestasikan kembali ke dalam pengembangan sepak bola global.
Melalui program FIFA Forward, investasi pengembangan sepak bola diprediksi mencapai USD 2.7 miliar. Angka ini merepresentasikan peningkatan delapan kali lipat dibandingkan program yang ada sebelum tahun 2016.
"Ini bukan sekadar angka, melainkan tentang hasil nyata, seperti peluang lebih besar bagi pemain pria, wanita, dan remaja untuk berkompetisi di tingkat tertinggi," jelas Infantino.
Transformasi Sepak Bola Wanita dan Perlindungan Atlet
FIFA juga mengumumkan langkah revolusioner dalam mendukung kesetaraan gender. Pada kompetisi wanita mendatang, FIFA mewajibkan adanya representasi perempuan dalam jajaran staf teknis, termasuk posisi pelatih kepala atau asisten pelatih, serta tim medis.
Selain itu, terkait tuan rumah Piala Dunia Wanita 2031 dan 2035, FIFA akan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa sebelum akhir tahun 2026. Edisi 2031 dipastikan akan menjadi sejarah baru dengan kepesertaan 48 tim.
Keputusan Strategis dan Regional
Terkait permohonan dari Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengenai partisipasi klub Israel di wilayah tertentu, Dewan FIFA memutuskan untuk tidak mengambil tindakan hukum lebih jauh.
Hal ini didasarkan pada interpretasi Statuta FIFA bahwa status hukum wilayah Tepi Barat tetap menjadi masalah hukum internasional publik yang belum terselesaikan dan sangat kompleks.
Namun, FIFA akan terus memfasilitasi dialog dan mediasi antara kedua asosiasi di tingkat operasional.
Di level regional, FIFA secara resmi menyetujui pengenalan FIFA ASEAN Cup yang dijadwalkan memulai edisi perdananya pada September-Oktober 2026. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem sepak bola di kawasan Asia Tenggara.
Pertemuan ini ditutup dengan pengesahan Kebijakan Perlindungan FIFA (FIFA Safeguarding Policy) sebagai upaya menciptakan lingkungan sepak bola yang bebas dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan.
Editor: Redaksi TVRINews
