TVRINews - Zurich
Ketegangan memuncak di koridor kekuasaan sepak bola global, saat gelombang resistensi dan kontroversi privatisasi turnamen menguji masa depan kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA.
Di tengah menyusutnya dukungan politik dan kritik publik yang meluas, Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan mengerahkan segala daya upaya guna mempertahankan posisinya sebagai penguasa tertinggi sepak bola dunia di tengah badai suksesi yang kian mendekat.
Sosok berusia 56 tahun yang telah memegang kendali kepemimpinan tertinggi federasi sepak bola internasional selama lebih dari satu dekade ini kembali menjadi sorotan tajam.
Kedekatannya dengan para pemimpin global terkemuka serta berbagai rencana strategis kontroversial untuk memaksimalkan pendapatan komersial sepak bola kini dipandang sejumlah kalangan sebagai ancaman nyata terhadap integritas olahraga tersebut.
Dengan rentang waktu kurang dari enam bulan menjelang bursa pemilihan presiden FIFA berikutnya, Infantino tampak mulai kehilangan pijakan di antara basis tradisional pendukungnya di federasi sepak bola nasional maupun konfederasi regional.
Mengapa Kepemimpinan Infantino Digoyang?
Kendati sang arsitek asal Swiss tersebut tidak pernah dikenal sebagai figur yang terlalu populer di kalangan akar rumput suporter sepak bola, ia sebelumnya selalu menikmati sokongan kuat dari para tokoh elite olahraga serta pimpinan geopolitik global.
Namun, popularitas tersebut merosot tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemicu utamanya bermula dari keterbukaannya menunjukkan hubungan erat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, disusul pengumuman kontroversial mengenai rencana privatisasi Piala Dunia demi mendulang laba maksimal dari ajang akbar tersebut.
Relasi keduanya mulai terjalin saat Infantino berkunjung ke Gedung Putih pada tahun 2018, menyusul keputusan penunjukan Amerika Serikat sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia FIFA 2026. Sejak saat itu, Infantino kerap tampil bersama Trump dalam berbagai agenda publik strategis, termasuk di hadapan forum internasional di Mesir pada Oktober 2025.
Tekanan memuncak pada Desember lalu ketika Infantino menganugerahkan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Presiden AS dalam drawing Piala Dunia 2026 di Washington, DC. Gelombang kritik publik pun tak terelakkan.
Pukulan telak terhadap reputasi sang Presiden FIFA terjadi pasca-turnamen, tatkala ia mengundang investor swasta untuk membeli saham masa depan dari keuntungan Piala Dunia dan seluruh agenda resmi FIFA. Kelompok investor tersebut dikomandoi oleh Joshua Kushner, seorang pengusaha asal Amerika Serikat yang juga merupakan adik kandung dari menantu Trump, Jared Kushner.
Meskipun gelombang protes keras yang mencakup ancaman boikot dari sejumlah negara Eropa serta klaim internal bahwa kebijakan tersebut dilakukan secara tertutup mendorong Infantino untuk menarik kembali rencana tersebut, kerusakan reputasi terlanjur meluas.
Ia kini harus berpacu dengan waktu guna menggalang kembali dukungan politik dalam ambisinya mengincar masa jabatan keempat.
Aturan Batasan Masa Jabatan dan Celah Hukum
Secara normatif, konstitusi FIFA membatasi masa jabatan seorang presiden hingga maksimal tiga periode dengan durasi masing-masing empat tahun.
Kendati demikian, pada tahun 2022 lalu, Infantino sukses meyakinkan kongres bahwa periode pertamanya yang dimulai melalui Kongres Luar Biasa 2016 pasca-pengunduran diri Sepp Blatter tidak dihitung ke dalam batas maksimal karena dianggap sekadar merampungkan sisa mandat yang terinterupsi.
Upayanya mencalonkan diri untuk periode keempat kini menghadapi hambatan serius. Sejumlah kelompok pemerhati hak asasi manusia dan kritikus hukum olahraga secara resmi telah meminta Komite Tata Kelola, Audit, dan Kepatuhan (GACC) FIFA untuk memblokir pencalonan kembali Infantino.
Kalender Pemilihan dan Deretan Kandidat Penantang
Pesta demokrasi untuk memilih nakhoda baru badan pengelola sepak bola global tersebut dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027 mendatang.
Seluruh figur yang berminat maju wajib mendeklarasikan pencalonan mereka paling lambat pada 18 November. Pemilihan ini melibatkan total 211 negara anggota dengan ambang batas kemenangan 106 suara mutlak.
Meskipun Presiden UEFA Aleksander Ceferin telah menyatakan mundur dari bursa pencalonan dan belum ada kandidat terbuka yang mendeklarasikan diri secara gamblang, sejumlah pimpinan konfederasi regional telah dijagokan sebagai figur potensial pengganti, di antaranya:
• Victor Montagliani — Presiden CONCACAF (Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia)
• Nasser al-Khelaifi — Ketua Asosiasi Klub Eropa (ECA) sekaligus Presiden Paris Saint-Germain
• Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa — Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC)
• Patrice Motsepe — Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF)
Manuver Politik Lapangan
Di tengah terpaan krisis, Infantino tetap aktif bermanuver di ranah publik meskipun para penasihat sempat menyarankannya untuk mengambil langkah senyap. Permintaan Victor Montagliani agar ia melewatkan turnamen usia dini di Karibia pekan lalu diabaikan; Infantino justru membagikan dokumentasi pertemuannya dengan para pejabat politik dan sepak bola Republik Dominika melalui media sosial.
Langkah tersebut dibaca sebagai upaya merangkul kembali para pengambil kebijakan regional. Dalam keterangan resmi FIFA, Infantino menegaskan urgensi komunikasi langsung di tengah situasi yang dinamis.
"Sangat penting untuk terlibat, membangun dialog, menyampaikan pandangan serta opini. Banyak hal telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir, dan krusial bagi kita untuk saling mendengar serta menyuarakan aspirasi."— Gianni Infantino, Presiden FIFA
Agenda publik terbaru memperlihatkan kehadirannya di Paris pada Senin lalu dalam penutupan Esports World Cup di Grand Palais, di mana ia duduk berdampingan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron serta Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Kendati kubu Eropa melalui UEFA tetap bersikap tegas dalam agenda boikot kompetisi, Infantino masih mengantongi basis dukungan kuat dari konfederasi Afrika (CAF) serta sejumlah federasi Amerika Latin seperti Meksiko dan Argentina. CONMEBOL bahkan telah menerbitkan pernyataan resmi yang menolak segala bentuk upaya pelengseran di luar mekanisme pemungutan suara penuh dari 211 negara anggota.
Di saat konstelasi politik memanas, roda kompetisi global tetap berputar. Turnamen Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia dijadwalkan mulai bergulir pada 5 September mendatang, menjadi ujian nyata berikutnya di tengah ketegangan administratif yang belum mereda.










