
Foto: FIFA
Penulis: Fityan
TVRInews - Zurich
Legenda Brasil tekankan persiapan detail dan pengorbanan personal sebagai syarat mutlak meraih trofi.
Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026, kapten legendaris Brasil saat menjuarai edisi 1994, Dunga, memberikan analisis mendalam mengenai apa yang diperlukan sebuah tim nasional untuk mencapai puncak supremasi sepak bola global.
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama FIFA, pria yang dikenal dengan kepemimpinan tegasnya ini menegaskan bahwa kemenangan tidak ditentukan saat peluit pembuka dibunyikan, melainkan jauh sebelum turnamen dimulai.

(Foto: FIFA)
Dunga menekankan bahwa di era modern, di mana data dan teknologi video sangat melimpah, tantangan utama bagi 48 tim yang akan bertanding di Amerika Utara bukan lagi mencari informasi, melainkan menyaringnya dengan tepat.
"Saat sebuah negara memenangkan Piala Dunia, itu karena mereka melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain," ujar mantan gelandang bertahan tersebut. "Anda harus memenangkan pertandingan bahkan sebelum sesi latihan dimulai, yakni melalui persiapan Anda."
Dari Slide ke Big Data
Mengenang kejayaan tiga dekade silam di Amerika Serikat, Dunga menceritakan bagaimana tim teknis Brasil saat itu yang dipimpin oleh Carlos Alberto Parreira dan Mario Zagallo bekerja keras mengumpulkan informasi lawan yang saat itu masih sangat terbatas.
Jika dahulu mereka mengandalkan diskusi di meja makan untuk membedah profil emosional lawan, kini semua tersedia dalam genggaman.
Namun, ia memperingatkan bahwa kelimpahan data bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan kriteria yang jelas. Baginya, pemahaman terhadap lawan adalah fondasi, namun eksekusi di lapangan tetap menjadi penentu utama.
Harga Sebuah Kejayaan
Bagi Dunga, memenangkan trofi emas Piala Dunia menuntut komitmen yang hampir bersifat asketik.
Ia tidak ragu menyebut bahwa pengorbanan personal adalah harga yang tidak bisa ditawar. Mentalitas ini, menurutnya, harus tertanam di seluruh elemen tim, bukan hanya pemain.
"Harga yang Anda bayar untuk mengangkat trofi itu sangat besar," tuturnya secara lugas. "Selama 30 hari itu, Anda harus melupakan dunia. Anda harus melupakan keluarga, melupakan segalanya, dan fokus sepenuhnya pada pekerjaan Anda."
Ia menambahkan bahwa kemenangan kolektif akan mendatangkan penghargaan individual secara alami. Filosofi ini menekankan bahwa setiap individu dalam struktur tim harus "mendayung ke arah yang sama" untuk mencapai target yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.
Menatap Final 2026
Dengan jadwal pertandingan yang telah difinalisasi dan Mexico City bersiap menyambut laga pembuka, pesan Dunga menjadi alarm bagi negara-negara peserta.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, disiplin dan ketelitian pada detail terkecil akan menjadi pembeda antara tim yang pulang lebih awal dan mereka yang akan berpesta di podium juara pada 19 Juli 2026.
Editor: Redaksi TVRINews
