
Bintang Timnas Brasil, Ademir, peraih gelar pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1950. (Grafis: Mohamad Yusuf)
Penulis: Irfan Sudrajat
TVRINews - Rio de Janeiro, Brasil
Ademir pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1950 yang mendapatkan kritik karena gagal membawa Brasil juara.
Ademir memang gagal membawa Brasil juara Piala Dunia 1950, tapi namanya dikenang sebagai salah satu mesin gol dalam sejarah turnamen ini.
Ademir de Menezes adalah peraih gelar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1950 yang berlangsung di negeri kelahirannya, Brasil. Ia mencetak 9 gol di World Cup 1950 tersebut, menempatkannya di posisi pertama dalam daftar top scorer.
Pencapaian Ademir meneruskan sukses bintang Brasil sebelumnya, yaitu Leonidas, yang juga meraih gelar top skor di Piala Dunia sebelumnya (1938).
Hanya, tidak mudah bagi Ademir menyandang status top skor tersebut karena dia bagian dari tim Brasil yang gagal di final, yang dikenal dengan Maracanazo pada Piala Dunia 1950 itu.
Gol-golnya sebelum final membuat Ademir menjadi perhatian. Dia dipuja, pemain harapan masyarakat Brasil. Bahkan seorang anak kecil yang sakit di rumah sakit menolak melakukan operasi kecuali Ademir datang mengunjunginya.
Ademir sempat menjadi "malaikat" bagi seorang anak kecil, tapi kemudian sehari kemudian dirinya menjadi sasaran kritik. Ia dianggap penyebab dari kegagalan Tim Samba di Piala Dunia 1950 itu.
Ademir yang ketika itu masih 25 tahun, tampil di Piala Dunia 1950 dengan membawa gelar Pemain Terbaik Piala Amerika 1949.
Gol-golnya di Piala Dunia 1950 sudah tercipta di fase grup. Dimulai dengan dua gol ke gawang Meksiko dalam kemenangan 4-0. Gol selanjutnya di turnamen ini tercipta saat menang 2-0 Yugoslavia. Saat itu, Ademir mencetak gol ketika laga baru berjalan empat menit.
Brasil kemudian lolos ke putaran kedua dengan status juara Grup 1. Di fase putaran ini, Ademir mencetak quattrick (empat gol) saat Brasil memukul Swedia dengan skor 7-1. Ademir kembali mencetak gol di laga kedua dalam kemenangan 6-1 atas Spanyol. Dalam laga tersebut, Ademir mencetak dua gol.
Brasil ketika itu memiliki trio lini depan menakutkan yaitu Zizinho, Ademir, dan Jair. Namun, dalam laga final, ketajaman Ademir sebagai mesin gol tidak dapat menembus gawang Uruguai. Menurut keterangan sejumlah sumber, Ademir bahkan melepaskan 17 tembakan di babak pertama tapi tidak ada satu pun yang menjadi gol.
Brasil kalah di final 1-2 yang digelar di Stadion Maracana, rumah mereka sendiri yang kemudian kekalahan itu disebut dengan "Maracanazo".
Sebutan tersebut diberikan karena Brasil gagal menjadi juara Piala Dunia dengan cara yang menyakitkan. Bermain di rumah sendiri, unggul lebih dulu, mendapatkan dukungan fans, namun gelar yang sudah di depan mata tersebut terlepas.
Brasil unggul lebih dulu lewat gol Albino Friaca di menit ke-47. Namun, Uruguay mampu membalikkan kedudukan melalui gol Alberto Schiaffino di menit ke-66 dan gol Alcides Ghiggia pada menit ke-79.
Kegagalan tersebut membuat Brasil asuhan Flavio Costa mendapatkan kritik dari publik sepak bola mereka. Kekalahan tersebut sangat disesalkan karena Brasil sebenarnya hanya membutuhkan hasil imbang untuk menjadi juara.
Ademir menjadi kambing hitam dari kegagalan Brasil di final lawan Uruguai. Selain dirinya, kiper Moacir Barbosa juga menjadi pemain yang mendapatkan kritik setelah Piala Dunia 1950 itu usai. Kegagalan final tersebut bahkan terus mengikuti dan berdampak kepada kehidupan keduanya.
Moacir Barbosa contohnya, dicekal oleh Presiden Federasi Sepak Bola Brasil, Ricardo Teixeira. Disebutkan sang presiden tidak mengizinkan mantan kiper Timnas Brasil tersebut menjadi komentator televisi di sebuah laga internasional.
"Saya telah menanggung untuk sesuatu yang bahkan bukan tanggung jawab saya, saya merasakannya selama 30 tahun lebih sejak Piala Dunia 1950 itu," kata Moacir Barbosa pada tahun 2000 silam.
Tidak berbeda dengan rekan setimnya itu, Ademir mengasingkan diri. Butuh selama 15 hari lebih bagi Ademir untuk menghindari publik setelah tragedi kekalahan di Piala Dunia 1950 itu.
"Dia mengatakan bahwa itu adalah kesedihan dan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Meski dia telah memenangkan banyak gelar dalam kariernya, namun tidak ada yang mengingat dan membicarakan pencapaian bagus tersebut," kata istri Ademir, Vilma Menezes, seperti yang diberitakan Globo.com pada Mei 2014 silam.
"Dia (Ademir) pulang setelah final itu, mengambil Koper dan pergi ke Itacuruca, sebuah tempat di negara bagian Rio de Janeiro. Dia bersembunyi di sana selama 15 hari. Dia sempat memanggil Barbosa untuk menemaninya, dia sangat kesepian. Dia hanya memiliki istrinya."
Namun, Ademir kemudian berhasil bangkit dari situasi tersebut. Butuh dua tahun untuk membuatnya berani mengenakan kostum Timnas Brasil kembali.
Kebangkitannya ditandai dengan menjadi bagian sukses Timnas Brasil meraih gelar Panamerican Championship 1952. Dalam laga terakhir lawan Cile yang menentukan gelar, Ademir mencetak dua gol dan membawa timnya menang 3-0 dan juara.
Sepak bola membuatnya kembali hidup karena kemudian dia kembali ke klub asalnya, Sport Recife di tahun 1957 sebelum gantung sepatu.
Ademir kemudian menjadi pelatih klub yang membuat namanya besar, Vasco da Gama, pada 1967. Dia sempat menjadi komentator sepak bola. Ademir meninggal pada 11 Mei 1996 dalam usia 73 tahun karena sakit.
Final menghadapi Uruguai memang menjadi bagian kelam dari sepak bola Brasil dan untuk Ademir meski dia meraih gelar pencetak gol gol terbanyak.
Seperti Malaikat sebelum Final
Kekalahan itu sendiri seperti sudah terlihat ketika begitu banyak tekanan dan gangguan kepada skuad Brasil saat itu. Pers, politisi, fans diberitakan memberikan perhatian terlalu besar kepada para pemain Brasil.
Sehari sebelum final itu, Ademir bahkan dibawa ke rumah sakit untuk sekadar "memberkati" seorang anak laki yang akan menjalani operasi. Ayah anak laki-laki yang sakit itu masuk ke kamp Brasil dan memohon kepada pelatih dan manajer agar mengizinkan Ademir keluar untuk ke rumah sakit.
Menurut ayah tersebut, anaknya tidak mau melakukan operasi kecuali dia bertemu dengan Ademir.
Ademir pun melakukan tugas tersebut yang sudah dizinkan pelatih. Dia tiba di ruang operasi dan anak berusia 14 tahun yang sakit itu memberikan ciuman kepada striker Brasil ini sebelum meminta ahli bedah melakukan operasi.
Ademir pun kembali ke kamp. Namun, dirinya tidak dapat tidur. "Setelah saya kembali ke hotel, saya tidak bisa tidur. Saya menghabiskan malam memikirkan apa yang terjadi dan mengapa anak laki-laki itu memperlakukan saya seperti orang suci," kata Ademir, seperti yang diberitakan ESPN.
Salah satu pers Brasil yaitu O Cruzeiro, mendekati para pemain Brasil untuk mengatur kesepakatan ekslusif membuat artikel, kesepakatan yang terjadi sehari sebelum final. Namun, yang terjadi Brasil kalah. Ademir tetap diingat sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia 1950 tapi bukan sebagai bintang yang membawa Brasil juara dunia.
Editor: Irfan Sudrajat
