
Pemain Timnas Putri Indonesia, Zahra Muzdalifah menghadiri coaching clinic yang digelar di Lapangan A, Senayan, Kamis (22/1) pagi WIB. (TVRI/Andrey Gromicko)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - Jakarta, Indonesia
Sebanyak 100 anak putri dan empat SSB begitu semangat mengikuti coaching clinic meski hujan deras mengguyur daerah Jakarta sejak pagi.
Hujan deras yang mengguyur Lapangan A Senayan, Jakarta, Kamis (22/1), tak menyurutkan langkah para pesepak bola putri muda. Sejak pagi hari, lapangan yang basah dan udara dingin justru menjadi saksi semangat membara 100 peserta coaching clinic Festival Sepak Bola Rakyat yang tetap berlatih tanpa ragu.
Anak-anak putri dari empat sekolah sepak bola yakni SSB Anjelo, Putri Jaya Putra DKI Jakarta, Khenzi United, dan Tajimalela FA, berlarian di atas rumput yang licin. Jersey mereka basah kuyup, sepatu berlumpur, namun tawa dan teriakan semangat tak pernah hilang.
Seolah hujan hanya menjadi latar, bukan penghalang. Semangat itu pula yang membuat pemain Timnas Putri Indonesia, Zahra Muzdalifah, terkesan sejak tiba di lokasi.
“Saya sebenarnya cukup terkejut. Soalnya saya sudah datang sejak jam 8 pagi dan melihat hujannya deras sekali. Saya sempat masuk sebentar karena mau ke toilet dan melihat anak-anak itu masih sangat bersemangat meski hujan deras. Saya saja sudah kedinginan, sementara mereka sudah basah-basahan dan tetap turun ke lapangan. Semangat mereka luar biasa,” kata Zahra.
Bagi Zahra, kegigihan para peserta bukan sekadar soal latihan sepak bola. Itu adalah cerminan kecintaan terhadap permainan dan mimpi yang mereka bawa sejak usia dini. Ia melihat sendiri bagaimana anak-anak itu tak gentar menghadapi kondisi lapangan yang jauh dari ideal.
“Saya juga sempat melihat mereka latihan dan ngobrol sebentar. Mereka sama sekali tidak takut kotor atau kehujanan. Menurutku, semangat mereka itu gila sih, aku benar-benar suka melihatnya,” ucapnya.
Dari balik pagar lapangan, Zahra bahkan sudah menangkap potensi yang dimiliki para pemain muda tersebut. Meski belum sempat turun langsung ke tengah lapangan, gaya bermain mereka cukup membuatnya penasaran.
“Iya, sempat melihat pemain yang menonjol. Waktu itu saya masih di mobil dan belum turun, tapi dari cara mereka main saya langsung penasaran karena kelihatan bagus-bagus," ujarnya.
"Saya sampai nanya, ini usia mereka berapa, dan ternyata masih di bawah 18 tahun. Itu bikin aku kaget banget. Di usia semuda itu, kemampuan mereka sudah sejauh ini. Menurutku, mereka punya masa depan yang cerah,” ia menambahkan.
Festival Sepak Bola Rakyat melalui coaching clinic ini menjadi ruang belajar yang penting, terutama bagi sepak bola putri yang masih minim kompetisi. Di tengah keterbatasan liga, turnamen, dan klub, kegiatan semacam ini menjadi jembatan bagi para pemain muda untuk terus berkembang.
“Menurutku coaching clinic itu penting banget, apalagi untuk sepak bola wanita. Sekarang kan belum ada liga, turnamen juga masih sangat terbatas, dan klub pun belum banyak. Jadi lewat coaching clinic seperti ini, mereka bisa belajar lebih banyak, meningkatkan kemampuan, dan berkembang. Menurutku ini hal yang sangat positif,” tuturnya.
Festival Sepak Bola Rakyat merupakan inisiatif melalui kolaborasi Coca-Cola Indonesia dan Gemah Garuda Nusantara (GGN) untuk mengembangkan talenta muda sepak bola Indonesia, sekaligus bagian dari Road to FIFA World Cup Trophy Tour by Coca-Cola. Acara ini akan diadakan di empat kota yaitu Labuan Bajo, Jakarta, Palu, dan Makassar.
Editor: Muhammad Ridwan
