
Para pemain Timnas Prancis merayakan gol dalam sebuah pertandingan. Prancis secara resmi tidak akan memboikot gelaran Piala Dunia 2026.
Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Paris, Prancis
Pemerintah Prancis angkat suara terkait rencana boikot sejumlah negara Eropa terhadap Piala Dunia 2026.
Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari menegaskan sikap negaranya kini yang tidak mempertimbangkan sama sekali untuk memboikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara: Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.
Hal itu diungkapkan Ferrari menyusul meningginya tensi antara AS dengan sejumlah negara Eropa terkait ucapan Presiden AS Donald Trump untuk menganeksasi Greenland dari Denmark.
“Saat ini, kementerian tidak berniat memboikot kompetisi penting dan sangat dinantikan ini,” kata Ferrari pada Selasa (20/1/2026) malam seperti dikutip Mundo Deportivo. “Meskipun demikian, saya tidak menghakimi apa yang mungkin terjadi,” tutur Ferrari.
Marina Ferrari menambahkan bahwa ia ingin memisahkan olahraga dari politik. Menteri Olahraga Prancis itu juga menyatakan: “Piala Dunia 2026 adalah momen penting bagi semua penggemar olahraga.”
Sementara itu, anggota parlemen Prancis dari sayap kiri Eric Coquerel menyatakan bahwa boikot oleh negara tersebut harus dipertimbangkan, mengingat Timnas Prancis telah dua kali menjadi juara dunia (1998 dan 2018) dan saat ini menjadi runner-up setelah kalah di final terakhir melawan Argentina melalui adu penalti di Qatar 2022.
Coquerel menyatakan dalam sebuah pesan yang diunggah di media sosial: “Serius, dapatkah Anda membayangkan bermain di Piala Dunia di negara yang menyerang negara tetangganya, mengancam untuk menyerang Greenland, merusak hukum internasional, dan berupaya merusak PBB?”
Ia menambahkan, “Pertanyaan ini diajukan secara serius, terutama karena masih ada kemungkinan untuk memindahkan turnamen tersebut ke Meksiko dan Kanada.”
Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 11 Juni sampai 19 Juli mendatang. Prancis akan tergabung di Grup I bersama Senegal, Norwegia, dan salah satu negara pemenang play-off antarkonfederasi jalur 2 (bisa Irak, Bolivia, atau Suriname).
Di sisi lain, Jerman selama ini menjadi salah satu negara Eropa yang mengancam memboikot Piala Dunia, meskipun tidak disuarakan secara resmi oleh pemerintahnya.
Jurgen Hardt, anggota Uni Demokrat Kristen dan sekutu dekat Kanselir Jerman Friedrich Merz, dalam sebuah wawancara mengisyaratkan sebuah langkah yang akan menempatkan FIFA dalam posisi sulit.
“Pembatalan turnamen hanya akan dipertimbangkan sebagai upaya terakhir untuk membuat Presiden Trump mempertimbangkan kembali masalah Greenland,” kata Hardt seperti dikutip Bild.
Pun begitu, Hardt masih berharap solusi diplomatik, utamanya lewat perundingan dengan AS dengan bantuan NATO dan Uni Eropa. Namun, politisi sayap kanan itu tidak mengesampingkan tekanan simbolis berupa boikot.
Ancaman ini signifikan. Jerman, juara dunia empat kali (1954, 1974, 1990, dan 2014), adalah salah satu tim nasional paling ikonik di dunia dan elemen kunci dalam kesuksesan olahraga dan ekonomi turnamen tersebut. Ketidakhadirannya akan menjadi pukulan jutaan dolar bagi FIFA dan negara-negara tuan rumah.
Editor: Tri Cahyo Nugroho
