
Alexandra Eala Petenis Filipina
Penulis: Fityan
TVRINews – New York
Alexandra Eala, Petenis Berusia 20 Tahun, Tunjukkan Ketahanan Luar Biasa saat Bangkit dari Keterpurukan dan Amankan Kemenangan di Tengah Kontroversi Teknologi Video Ulasan yang Memanas.
Alexandra Eala mengukir namanya dalam sejarah tenis. Ia menjadi petenis perempuan pertama yang mewakili Filipina yang berhasil memenangkan pertandingan di ajang Grand Slam. Kemenangan bersejarah itu diraihnya di U.S. Open pada Minggu (24/8).
Saat ia menumbangkan unggulan ke-14, Clara Tauson, dengan skor 6-3, 2-6, 7-6 (13-11). Kemenangan ini didapat Eala melalui perjuangan dramatis, di mana ia sempat tertinggal 5-1 di set ketiga dan diwarnai dengan momen krusial yang melibatkan teknologi video ulasan.
Pertandingan yang berlangsung sengit di Grandstand Arena mencapai puncaknya di set ketiga. Tauson, yang saat itu memimpin 5-4, tengah berusaha mengamankan servisnya untuk kedua kalinya guna mengakhiri pertandingan. Sebuah momen krusial terjadi ketika Eala melakukan pukulan voli di dekat net. Pukulan tersebut memicu perdebatan sengit mengenai apakah raket Eala menyentuh bola sebelum melewati net, sebuah pelanggaran yang tidak diizinkan.
Wasit Ambil Keputusan Berani……
Wasit Kader Nouni memutuskan untuk menggunakan video ulasan, sebuah sistem yang diperkenalkan di U.S. Open pada tahun 2023 di sejumlah lapangan dan kini telah diperluas ke 17 arena kompetisi. Setelah meninjau tayangan ulang, Nouni mengesahkan pukulan Eala, memberinya poin krusial dan dua break point pada kedudukan 15-40.
Keputusan itu memicu kemarahan Tauson. Ia sempat mengeluh dan beradu argumen dengan wasit, "Lihatlah bolanya. Apa pendapatmu tentang ini? Apa pendapatmu?" Protes yang berlarut-larut itu bahkan memicu cemooh dari sebagian penonton.
"Saya bermain sangat buruk. Tapi, itu jelas tidak membantu," ujar Tauson kepada The Associated Press pasca-pertandingan, merujuk pada insiden video ulasan. Ia menambahkan, "Saya tidak tahu mengapa kami bisa melakukan itu dengan VR. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi."
Tauson juga mengungkapkan kekecewaannya, mengklaim bahwa keputusannya salah. "Itu panggilan yang salah. Pelatih saya mengatakan hal yang sama. Fisioterapis saya mengatakan hal yang sama. Dan terutama jika pelatih saya mengatakan itu, saya tahu bahwa saya tidak salah, karena dia sering mengatakan saya salah," katanya dengan nada sedikit tertawa.
Setelah jeda panjang, Tauson melakukan double fault dan membuat skor imbang 5-5. Momen itu langsung disambut sorak sorai riuh dari penonton yang mayoritas mendukung Eala. "Seluruh stadion bersamanya, jadi saya yakin wasit merasa tertekan," kata Tauson.
*Perjuangan Tak Kenal Lelah*
Eala, petenis berusia 20 tahun yang berada di peringkat 75 dunia dan berlatih di Akademi Rafael Nadal, akhirnya mampu menutup pertandingan setelah 2,5 jam lebih, meskipun harus melewati lima match point yang menegangkan. Saat pukulan forehand terakhir Tauson melebar, Eala langsung menjatuhkan diri ke lapangan, dadanya terengah-engah, dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Kemenangan ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi Eala. "Saya merasa sangat diberkati menjadi yang pertama melakukan ini. Saya sangat bangga mewakili negara saya," katanya. "Ini membuat apa yang saya lakukan jauh lebih besar dari diri saya sendiri."
Eala, yang sebelumnya telah menorehkan empat kemenangan melawan petenis top-20 di tahun 2025, termasuk mengalahkan Iga Swiatek pada Maret lalu, berhasil mengakhiri pertandingan dengan dramatis. Setelah berjabat tangan dengan Tauson, Eala melompat-lompat di sekitar lapangan, disambut gemuruh tepuk tangan dari penonton.
"Saya sangat gembira," kata Eala, "dan itu adalah luapan emosi."
Editor: Redaktur TVRINews
