
Foto: Penyerang Timnas Indonesia Ole Romeny (Dok. TVRINews.com/Mukhamad Fatkhur Rozaq)
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman mengaku kecewa usai kekalahan 0-1 dari Bulgaria di final FIFA Series 2026 yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.
Menurut Herdman, secara permainan Indonesia justru tampil lebih baik, namun gagal memanfaatkan peluang yang ada.
Peluang emas didapat Indonesia pada menit ke-72. Berawal dari umpan jauh Baggott, Ole Romeny melepaskan sepakan cungkil yang masih membentur mistar gawang yang dijaga Dimitar Mitov.
Peluang kembali hadir pada menit ke-86. Kali ini Rizky Ridho hampir menyamakan kedudukan, namun tendangannya juga membentur mistar.
“Saya pikir kami bisa mengambil banyak hal positif. Secara kolektif kami bermain dengan komitmen tinggi, baik secara fisik maupun dalam menjalankan gaya bermain. Tapi kami gagal mengambil kesempatan. Padahal pertandingan ini seharusnya bisa kami menangkan,” ujar Herdman kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam konferensi pers seusai pertandingan, Senin, 30 Maret 2026.
Juru taktik asal Inggris ini juga menilai Bulgaria mampu mengelola pertandingan dengan baik, terutama dalam mengatur tempo permainan.
“Mereka tahu bagaimana memperlambat tempo dan itu bagian dari cara memenangkan pertandingan. Selamat untuk Bulgaria, mereka berhasil memanfaatkan situasi,” ucap Herdman.
Meski demikian, pelatih berusia 50 tahun itu menegaskan kekalahan ini menjadi pelajaran penting bagi tim.
“Ini menyakitkan, sangat menyakitkan. Tapi saya yakin para pemain akan belajar dan berkembang dari pengalaman ini,” kata Herdman.
Terkait hal yang perlu diperbaiki, Herdman menekankan pentingnya waktu untuk membangun kekompakan dan mematangkan sistem permainan.
“Saya akan evaluasi dalam dua minggu ke depan. Saat ini saya masih emosional karena kami sangat ingin menang. Tapi saya harus melihat pertandingan dengan kepala dingin, mencari kekuatan tim, lalu membangun dari situ,” tutur Herdman.
Ia menilai salah satu kekuatan utama Indonesia saat ini adalah kemampuan beradaptasi dengan berbagai sistem permainan.
“Dalam dua hari kami memainkan dua sistem berbeda. Ini menunjukkan bahwa kami bisa menjadi salah satu tim paling adaptif di Asia,” ujar Herdman.
Namun, ia juga mengakui masih ada kekurangan, terutama di lini serang yang membutuhkan koordinasi lebih matang.
“Kami butuh waktu bersama pemain. Mereka baru berkumpul beberapa hari, hanya dua sesi latihan. Tapi mereka bekerja sangat keras, bahkan tanpa keluhan,” ucap Herdman.
Herdman berharap jeda internasional berikutnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas permainan, khususnya dalam penyelesaian akhir.
“Ketika kami punya waktu lebih panjang, kami bisa memperbaiki pergerakan di sepertiga akhir, timing masuk ke kotak penalti, dan kualitas umpan. Kami sudah masuk ke area berbahaya, tapi eksekusinya belum maksimal. Itu akan datang seiring waktu,” tutur Herdman.
Editor: Redaktur TVRINews
