
Cristiano Ronaldo (tengah depan) bersama rekan setimnya jelang Kualifikasi Piala Dunia 2026 lawan Hungaria, 8 September 2025. (Foto: Attila Folgyi/Xinhua)
Penulis: Irfan Sudrajat
TVRINews - Lisabon, Portugal
Roberto Martinez mengakui dirinya belajar bahasa Portugal setelah resmi sebagai pelatih Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan.
Roberto Martinez menyatakan bahwa menjadi pelatih Timnas Portugal sebagai "tantangan dan tanggung jawab besar". Roberto Martinez juga menggambarkan kehidupan di negara asal Cristiano Ronaldo ini sebagai sebuah karunia.
Roberto Martinez menjadi pelatih Portugal sejak tiga tahun lalu tepatnya mulai 9 Januari 2023. Selama itu pula, pelatih berusia 52 tahun ini telah membawa Selecao das Quinas juara Liga Negara Eropa (UEFA Nations League 2025).
Sedangkan di ajang Piala Eropa (Euro) 2024, Langkah Timnas Portugal hanya sampai perempat final. Kini, Roberto Martinez akan mencoba membawa Portugal meraih gelar yang belum pernah diraih tim ini, yaitu Piala Dunia.
Di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko), Portugal satu grup dengan Kolombia, Uzbekistan, dan satu tim pemenang dari play-off.
Menurut Roberto Martinez, setelah tiga tahun menjadi pelatih Portugal, ia ini menyatakan dirinya pun harus beradaptasi baik sebagai profesional maupun secara personal. Adaptasi itu bahkan termasuk soal bahasa dan komunikasi.
"Sebuah kehormatan bagi saya, Federasi Sepak Bola Portugal memberikan kepercayaan kepada pelatih asing. Apalagi, pelatih asing sebelumya tidak ada yang bisa atau memahami bahasa Portugal," kata Roberto Martinez, seperti yang diberitakan Bein Sports, kemarin.
Roberto Martinez sendiri tidak mengatakan siapa pelatih asing yang dia maksudkan. Yang pasti, pria asal Spanyol ini telah menjalani proses adaptasi tersebut sejak pertama kali menjadi pelatih Portugal. Adaptasi itu meliputi mempelajari bahasa, kebiasaan masyarakatnya, serta sepak bola di negeri ini.
"Saya belajar bahasa Portugal dengan bimbingan guru yang bagus, lalu secara konsisten mendengarkan radio, dan menonton program televisi di negeri ini," kata pelatih berkepala plontos ini.
"Namun, walau terus belajar, saya merasa masih saja ada yang harus ditingkatkan lagi. Seperti hal lainnya, bahasa butuh latihan. Saya masih memiliki 150 hari (kini 133 hari) lagi sebelum Piala Dunia 2026 tiba," kata Roberto Martinez dengan nada bercanda.
Masih menurut Roberto Martinez, banyak yang menilai dirinya sebagai orang Spanyol tentu akan lebih mudah dalam komunikasi dengan pemain Portugal. Padahal, menurutnya tidak demikian.
Spanyol dan Portugal memang memiliki kesamaan dalam sejumlah hal. Bahkan, kedua negeri ini berasal dari sejarah yang sama, yaitu dikenal sebagai bangsa Iberia. Portugal dan Spanyol juga bersebelahan sebagai negara. Akan tetapi, soal bahasa dan pengucapan, banyak kosa kata yang berbeda maknanya.
Dari sepak bola, kedua negeri ini juga memiliki kesamaan. Namun, yang membuatnya terkesan dengan Portugal adalah kepercayaan negeri ini terhadap proses jangka panjang.
"Portugal adalah salah satu pionir dalam hal mengembangkan bakat pemain, sebuah model yang menjadi contoh bagi negara-negara Eropa," kata Roberto Martinez.
"Portugal memiliki aspek kompetitif dalam sepak bola, sejarah negeri ini juga diwarnai dengan petualangan, lalu ada peran besar dari sekolah kepelatihan di Portugal."
Karena itulah, dirinya memahami harapan publik sepak bola Portugal. Roberto Martinez menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya sebagai pelatih di Piala Dunia 2026 nanti.
Ajang ini juga penting bagi Portugal. Publik sepak bola Portugal ingin melihat bintang mereka, Cristiano Ronaldo, meraih gelar Piala Dunia. Trofi tersebut akan melengkapi pencapaian Cristiano Ronaldo sebagai pemain bintang dunia.
Roberto Martinez yang lahir di Balaguer, Spanyol, sebelumnya sudah memiliki pengalaman tampil di Piala Dunia sebagai pelatih. Dia membawa Timnas Belgia meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 2018, hasil terbaik dalam sejarah negara tersebut di turnamen terbesar sepak bola dunia ini.
Editor: Irfan Sudrajat
