
Berbagai momen dalam laga final Piala Dunia 1934 di Roma, Italia.
Penulis: Kunta Bayu Waskita
TVRINews - Roma, Italia
Final Piala Dunia 1934 kerap digambarkan sebagai laga yang mencerminkan era tersebut: gabungan strategi, mental juara, dan tekanan politik.
Pada 10 Juni 1934, di bawah terik matahari bersuhu lebih dari 35 derajat celcius, ribuan penonton berkumpul di Stadion Nazionale PNF Roma, Italia, untuk menyaksikan laga puncak Piala Dunia 1934. Pertandingan itu mempertemukan tuan rumah Italia melawan Cekoslowakia dalam sebuah duel sengit demi merengkuh gelar juara dunia.
Turnamen tahun itu sendiri sudah penuh dengan kisah menarik. Edisi kedua Piala Dunia ini merupakan yang pertama kali menggunakan sistem kualifikasi.
Sebanyak 32 tim bersaing demi mendapatkan 16 tempat pada putaran final, Italia bahkan tetap harus ikut kualifikasi meskipun berstatus tuan rumah.
Juara dunia sebelumnya, Uruguai, memilih absen sebagai protes terhadap kurangnya tim Eropa pada Piala Dunia 1930 ketika Uruguai jadi tuan rumah.
Laga final menjadi pertarungan ketahanan dan naluri juara. Italia, yang sebelumnya sempat memukul Amerika Serikat 7-1 dan menyingkirkan Spanyol serta Austria untuk lolos ke final, menghadapi tim Cekoslowakia yang solid secara teknis.
Babak pertama berjalan ketat tanpa gol, tetapi tekanan tim tamu akhirnya terbayar pada menit ke-71. Antonin Puc mengejutkan publik tuan rumah dengan menyarangkan bola melewati kiper Italia, membawa keunggulan sementara bagi Cekoslowakia.
Stadion yang sebelumnya penuh dengan sorak pendukung menjadi senyap. Italia terdiam, seolah trofi pertama Jules Rimet sudah berada di tangan tim tamu.
Namun, drama baru dimulai. Italia tidak meredup. Mereka bangkit dan terus menekan.
Pada menit ke-81, Raimundo Orsi, pemain sayap kelahiran Argentina yang memperkuat Italia, menyundul bola dengan tepat untuk menyamakan kedudukan 1-1.
Gol tersebut bukan hanya menyulut semangat Gli Azzurri, melainkan juga memastikan pertandingan akan dilanjutkan ke perpanjangan waktu.
Dalam perpanjangan waktu, kedua tim sudah terlihat kelelahan setelah bermain hampir penuh di bawah terik siang Kota Roma.Namun, salah satu momen penting datang dari Angelo Schiavio, penyerang tajam Gli Azzurri.
Pada menit ke-95, Schiavio memanfaatkan umpan dari rekan setimnya dan melepaskan tendangan yang menaklukkan kiper Cekoslowakia. Italia unggul 2-1 dan kemudian mempertahankan skor itu hingga akhir.
Gol Schiavio itu tidak hanya mengangkat trofi Piala Dunia Jules Rimet bagi Italia, tetapi juga menandai pencapaian bersejarah. Italia menjadi juara Piala Dunia kedua di dunia, sekaligus tim Eropa pertama yang memenangi turnamen ini.
Final 1934 kerap digambarkan sebagai pertandingan yang mencerminkan era tersebut: gabungan strategi, mental juara, dan tekanan politik.
Turnamen ini digelar di bawah rezim Benito Mussolini, yang memanfaatkan ajang ini untuk menunjukkan kekuatan dan kebanggaan nasional Italia. Kisahnya tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah sepak bola dunia.
Editor: Kunta Bayu Waskita
