
Piala Dunia 1966 menghadirkan kisah-kisah unik selain berbagai pertandingan bersejarah.
Penulis: Kunta Bayu Waskita
TVRINews - Jakarta
Piala Dunia 1966 berlangsung dalam bayang-bayang Perang Dingin. Salah satu cerita unik terjadi saat Timnas Korea Utara bermain di Middlesbrough.
Piala Dunia 1966 di Inggris bukan sekadar turnamen yang melahirkan juara baru yaitu Inggris (dan hingga kini The Three Lions masih belum bisa mengulanginya).
Edisi kedelapan Piala Dunia ini penuh cerita unik di lapangan maupun luar lapangan, kejadian tidak terduga, hingga momen yang kemudian menjadi bagian budaya populer dunia.
Berikut serba-serbi Piala Dunia 1966 dari yang mencengangkan, menggelitik, hingga menginspiriasi, dikutip dari berbagai sumber.
1. Maskot Pertama Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 1966 memperkenalkan World Cup Willie, seekor singa mengenakan kaus Union Jack. Dikutip dari FIFA.com, Willie adalah maskot resmi pertama dalam sejarah turnamen. Kesuksesannya membuka jalan bagi tradisi maskot yang kini menjadi bagian penting dari pemasaran FIFA.
2. Kostum Final Ditentukan oleh Lempar Koin
Dalam final Inggris vs Jerman Barat di Stadion Wembley, 30 Juli 1966, kedua tim memiliki warna seragam yang berpotensi berbenturan. Penentuan siapa yang memakai kostum utama dilakukan melalui lempar koin. Inggris kalah toss dan akhirnya mengenakan seragam merah, yang justru menjadi ikon dalam sejarah mereka.
3. Kalimat Komentator yang Abadi
Ucapan komentator BBC, Kenneth Wolstenholme, menjadi bagian budaya pop Inggris ketika itu dan masih dikenang hingga sekarang. “They think it’s all over… It is now!” (“Mereka pikir semuanya sudah berakhir… Tapi sekarang memang sudah berakhir!”).
Dilansir dari BBC Archive, kalimat itu muncul saat penyerang Inggris Geoff Hurst mencetak gol terakhir dalam laga final melawan Jerman Barat yang menjadikan skor 4-2. Hingga kini, frasa tersebut sering dipakai dalam musik, televisi, hingga politik.
4. Medali Juara yang Tidak Langsung Lengkap
Menariknya, pada 1966 tidak semua anggota skuad Inggris menerima medali juara. Saat itu, aturan FIFA hanya memberikan medali kepada 11 pemain yang tampil di final dan beberapa ofisial. Pemain cadangan yang tidak turun bermain tidak otomatis mendapat medali.
Baru pada tahun 2009, setelah kampanye panjang dan perubahan kebijakan FIFA, seluruh anggota skuad Inggris 1966 akhirnya dianugerahi medali resmi dalam sebuah seremoni khusus. The Independent menilai peristiwa ini memperlihatkan bagaimana standar penghargaan dalam sepak bola berubah seiring waktu.
5. Politik, Lagu Kebangsaan, dan Sensitivitas Era Perang Dingin
Dikutip dari FIFA Historical Archive, Piala Dunia 1966 juga berlangsung dalam bayang-bayang Perang Dingin. Salah satu cerita unik terjadi saat Timnas Korea Utara bermain di Middlesbrough. Awalnya, sempat muncul kebingungan diplomatik terkait pengakuan resmi dan pengibaran bendera mereka.
Meski akhirnya lagu kebangsaan Korea Utara tetap dimainkan, situasi ini menunjukkan betapa sepak bola tak pernah sepenuhnya terlepas dari politik global. Dukungan warga Middlesbrough kepada Korea Utara bahkan menjadi kisah tersendiri, hubungan emosional itu masih dikenang hingga kini.
6. Trofi Dicuri, Diselamatkan Seekor Anjing
Empat bulan sebelum turnamen dimulai, Trofi Piala Dunia yang saat itu masih menggunakan Piala Jules Rimet dicuri saat dipamerkan di Westminster, London. Pencurian itu memicu kepanikan nasional. Dikutip dari BBC, kepolisian setempat kemudian melakukan penyelidikan besar-besaran, bahkan sempat menerima surat tebusan.
Yang tidak disangka, trofi itu ditemukan oleh seekor anjing bernama Pickles saat berjalan-jalan bersama pemiliknya di kawasan Norwood. Pickles langsung menjadi selebritas dadakan, tampil di televisi dan mendapat hadiah uang. Kisah ini kini menjadi salah satu cerita paling legendaris dalam sejarah Piala Dunia.
7. Gol "Hantu" Geoff Hurst (The Ghost Goal)
Inilah kontroversi terbesar dalam sejarah final Piala Dunia. Pada masa perpanjangan waktu, tendangan Geoff Hurst membentur mistar gawang, memantul ke bawah, dan kembali ke lapangan.
Wasit asal Swiss, Gottfried Dienst, sempat ragu namun akhirnya mengesahkan gol tersebut setelah berkonsultasi dengan hakim garis asal Uni Soviet, Tofiq Bahramov.
Hingga hari ini, studi film dan teknologi modern masih memperdebatkan apakah bola benar-benar sudah melewati garis secara penuh. Kejadian inilah yang menjadi alasan terkuat FIFA akhirnya menerapkan teknologi garis gawang (Goal-Line Technology) di era modern.
Editor: Kunta Bayu Waskita
