
Ilustrasi pusat perdagangan grosir Tiongkok. (TVRI/Grafis Dede)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - Yiwu, Tiongkok
Terlepas dari negara penyelenggara Piala Dunia ada di mana, Yiwu tetap menjadi pemasok merchandise turnamen yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.
Menjelang Piala Dunia 2026, yang dimulai empat bulan lagi, pusat grosir komoditas Tiongkok di Yiwu, sudah sibuk memproduksi merchandise turnamen lantaran banjirnya permintaan global. Padahal, ajang presitisius tersebut dilangsungkan di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko.
Di Yiwu International Trade Market, Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, Tiongkok bagian timur, toko-toko di bagian perlengkapan olahraga kini dipenuhi pembeli internasional. Kedatangan mereka untuk memeriksa sampel produk, menawar harga, dan mencari pesanan.
“Kami berencana memesan 5.000 hingga 10.000 jersey untuk Piala Dunia, biasanya pembelian diselesaikan pada Januari atau Februari,” kata seorang pembeli asal Brasil yang memperkenalkan diri sebagai Matheus kepada Xinhua bahwa dirinya sedang menjalani perjalanan pengadaan barang selama dua bulan di Yiwu untuk Piala Dunia 2026.
Di pasar ini, beragam produk bertema Piala Dunia 2026 memenuhi rak-rak. Penjual lokal, Luo Tianle, mengatakan tokonya meluncurkan 50 hingga 60 item baru, termasuk boneka, kebutuhan sehari-hari, dan suvenir.
“Produk baru ini sudah berhasil meraih pesanan senilai lebih dari 1 juta yuan (sekitar Rp2,24 miliar) hanya dalam satu minggu setelah diluncurkan,” ucap Luo.
Dikenal karena kualitas dan harganya yang terjangkau, produk “Made in Yiwu” selalu menarik perhatian pasar selama ajang olahraga bergengsi. Banyak pengusaha sudah memulai persiapan mereka untuk Piala Dunia 2026 sejak Mei 2025.
Penjual Wen Congjian, yang menjual lebih dari 2 juta jersei desain asli untuk Piala Dunia 2022 Qatar, kini memperluas jangkauan produknya. Tahun ini, ia menghadirkan jersei untuk wanita, anak-anak, bahkan hewan peliharaan. “Kami ingin mendiversifikasi produk agar penggemar memiliki lebih banyak pilihan,” ucapnya.
Selain desain baru, para penjual kini juga mengamankan hak kekayaan intelektual. Bola sepak edisi khusus rancangan Chen Shaomei menarik banyak pesanan luar negeri. Melalui paten desain, bola-bola ini memberikan margin keuntungan sekitar 15 persen lebih tinggi dibanding bola biasa.
Meski Tahun Baru Imlek sudah dekat, pabrik Chen beroperasi penuh. “Para pekerja tetap lembur tahun ini. Volume pesanan sekitar 30 persen lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Suasana serupa terlihat di fasilitas lain yang dikelola perusahaan perlengkapan olahraga, di mana lini produksi berjalan nonstop. “Pesanan terkait Piala Dunia semakin meningkat seiring mendekatnya turnamen,” kata Wu Xiaoming, manajer perusahaan sekaligus ketua asosiasi perlengkapan olahraga Yiwu.
Wu, yang sempat viral secara daring pada Piala Dunia sebelumnya karena memproduksi 100.000 bola hanya dalam 50 hari, telah menghadapi enam Piala Dunia dalam karier dua dekadenya. Menghadapi persaingan ketat, ia kini menggeser fokus dari harga murah ke branding yang beragam dan peningkatan kualitas produk.
Perusahaannya kini ikut menentukan standar industri, memasok bola resmi untuk turnamen provinsi, dan bekerja sama dengan klub-klub sepak bola asing. Menurut Wu, era bersaing hanya soal harga telah usai. “Sekarang fokusnya pada pengembangan berkualitas tinggi. Saya berharap semua bisnis bisa menemukan arah di tengah booming ini,” katanya.
Berdasarkan data Bea Cukai Yiwu, ekspor perlengkapan olahraga kota ini naik 20,3 persen secara tahunan menjadi total 11,65 miliar yuan sekitar Rp26,1 triliun pada 2025, dengan pasar utama meliputi Amerika Serikat, Brasil, dan Arab Saudi.
Terlepas dari negara penyelenggara Piala Dunia ada di mana, Yiwu tetap menjadi pemasok merchandise turnamen yang konsisten. Wu menilai hal ini karena keunggulan kota tersebut dalam variasi produk, respons pasar yang cepat, dan biaya logistik yang kompetitif.
“Untuk menonjol, Anda harus berspesialisasi, menjadi tak tergantikan agar kualitas dan harga Anda bisa dibenarkan,” tutup Wu.
Editor: Muhammad Ridwan
