TVRINews – Seattle, AS
FIFA batalkan skorsing Balogun, persaingan sengit AS melawan Belgia memanas di babak 16 besar.
Atmosfer panas menyelimuti laga babak 16 besar Piala Dunia antara tuan rumah Amerika Serikat melawan Belgia.
Bukan hanya soal strategi di lapangan, sorotan tajam dunia kini tertuju pada kebijakan FIFA yang secara mendadak membatalkan sanksi kartu merah penyerang andalan AS, Folarin Balogun.
Keputusan ini muncul kurang dari 48 jam sebelum kick-off, menyusul laporan mengenai upaya lobi personal yang dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Presiden FIFA Gianni Infantino. Langkah yang dinilai tidak lazim ini memicu perdebatan mengenai pengaruh politik dalam sepak bola global.
Balogun sebelumnya dijatuhi sanksi larangan bertanding akibat pelanggaran keras terhadap pemain Bosnia, Tarik Muharemovic. Namun, dalam pernyataan resminya, FIFA menyebutkan bahwa berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin, pelaksanaan sanksi tersebut ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun.

(Penyerang andalan AS, Folarin Balogun saat mendapatkan kartu merah (Foto: USA To Day))
Saling Tanggap Pelatih
Keputusan FIFA ini memicu reaksi kontras dari kedua kubu. Pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, membela kebijakan tersebut dengan mengklaim bahwa preseden serupa pernah terjadi sebelumnya.
"Saya rasa 99,9 persen orang dalam sepak bola menganggap ini hukuman yang tidak adil. Ada bukti masa lalu yang memungkinkan penangguhan hukuman," ujar Pochettino kepada awak media Senin 6 Juli 2026.
Ia menambahkan bahwa timnya telah melihat banyak pemain lain di turnamen ini yang tidak mendapatkan hukuman serupa untuk pelanggaran yang setara.
Sebaliknya, pelatih Belgia, Rudi Garcia, melontarkan kritik pedas atas integritas keputusan tersebut. Ia menyindir transparansi FIFA dalam sebuah pernyataan bernada sarkasme.
"Saya tidak tahu bahwa di kantor FIFA, tanggal 5 Juli adalah 1 April di Eropa," sindir Garcia, merujuk pada lelucon April Mop. "Federasi Belgia tidak hanya membela tim nasional, mereka membela sepak bola secara umum, integritas, dan etikanya. Saya rasa ini pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia keputusan seperti ini terjadi."
Peta Kekuatan Menuju Perempat Final
Di luar drama ruang sidang, kedua tim memiliki beban sejarah yang berat. Amerika Serikat, sebagai salah satu tuan rumah, berambisi meraih tiket perempat final pertama mereka dalam dua dekade terakhir. Sementara itu, Belgia berupaya mengulang kejayaan mereka saat finis di posisi ketiga pada 2018.
Berdasarkan data Opta, laga ini diprediksi berjalan sangat ketat. Amerika Serikat memiliki probabilitas kemenangan sebesar 37,2 persen dalam waktu normal, hanya terpaut tipis dari Belgia yang berada di angka 36,5 persen. Sisanya, sekitar 26,3 persen, memperhitungkan kemungkinan laga berlanjut ke babak tambahan atau adu penalti.
Kini, seluruh mata tertuju ke Seattle. Bagi tim asuhan Pochettino, kemenangan menjadi harga mati untuk membuktikan bahwa mereka layak berada di babak selanjutnya di atas lapangan, bukan melalui keputusan administratif yang kontroversial.










