
Komite Eksekutif NOC Indonesia, Greysia Polii (sumber: Tim NOC Indonesia)
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan insiden kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan pemusatan latihan nasional cabang olahraga panjat tebing.
Melalui Safeguarding Officer Tabitha Sumendap NOC Indonesia menegaskan segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun intimidasi tidak dapat ditoleransi dalam kondisi apa pun karena bertentangan dengan nilai dasar Gerakan Olimpiade: respect, excellence, dan friendship.
“Kami memandang isu ini sebagai persoalan yang sangat serius. Keselamatan, martabat, dan kesejahteraan atlet harus menjadi prioritas utama dalam setiap ekosistem olahraga,” ujar Tabitha dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Sabtu, 28 Februari 2026.
NOC Indonesia menyatakan akan terus mengawal proses investigasi melalui Safeguarding Task Force, dengan tetap menghormati mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Organisasi menekankan pentingnya proses yang objektif dan berpihak pada perlindungan serta pemulihan korban.
Sejak 2024, NOC Indonesia telah mengimplementasikan Program Safeguarding sebagai langkah preventif untuk menciptakan lingkungan olahraga yang aman.
Surat resmi juga telah disampaikan kepada seluruh federasi nasional anggota NOC Indonesia guna memastikan edukasi dan penerapan kebijakan safeguarding berjalan konsisten.
“Safeguarding bukan sekadar program administratif, melainkan komitmen moral dan tanggung jawab institusional. Setiap atlet Indonesia berhak berlatih dan berprestasi dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari ancaman apa pun,” ucap Tabitha.
Melalui Komite Eksekutif Josephine Tampubolon, NOC Indonesia menyampaikan empati kepada para korban. Organisasi juga menegaskan tidak akan berspekulasi atau membangun hipotesis di ruang publik selama proses berjalan.
“Kami berkomitmen memperkuat sistem perlindungan, membangun budaya saling menghormati, serta memastikan prestasi olahraga Indonesia berjalan seiring dengan perlindungan hak dan martabat atlet,” kata Josephine.
Sementara itu, Olympian peraih emas bulutangkis ganda putri sekaligus Komite Eksekutif NOC Indonesia Greysia Polii menekankan pentingnya rasa aman dalam sistem pembinaan.
“Sebagai mantan atlet, saya memahami betul bahwa ruang latihan harus menjadi tempat yang aman dan mendukung, bukan ruang yang menghadirkan rasa takut. Tidak ada prestasi yang layak dibayar dengan hilangnya rasa aman dan martabat seorang atlet,” tutur Greysia.
Sebelumnya, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menonaktifkan sementara pelatih kepala Hendra Basir sesuai surat keputusan organisasi. Langkah itu diambil menyusul laporan dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang disebut terjadi pada 28 Januari 2026.
Pelatih tersebut diberhentikan sementara hingga Tim Pencari Fakta (TPF) menyelesaikan pemeriksaan.
TPF juga berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk memastikan penanganan berjalan sesuai prosedur dan mengutamakan perlindungan korban.
Di tengah proses investigasi, FPTI memastikan persiapan menuju Kualifikasi Asian Games 2026 tetap berjalan, dengan penekanan pada aspek keamanan dan keselamatan atlet di setiap tahapan latihan.
Editor: Redaksi TVRINews
