TVRINews – Zurich
Infantino Selamat dari Krisis FIFA Berkat Dukungan Eksekutif Senior di Maroko
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan permohonan maaf terbuka atas kesalahan prosedur dalam rencana kontroversial penjualan saham kompetisi kepada investor swasta.
Kendati demikian, ia dipastikan tetap memegang kendali kepemimpinan tertinggi federasi sepak bola dunia tersebut setelah mengantongi dukungan penuh dari para eksekutif senior dalam pertemuan tertutup di Rabat, Maroko.
Pertemuan penting yang berlangsung di kantor regional FIFA Afrika pada hari Rabu 5 Agustus 2026 tersebut diinisiasi menyusul gelombang kritik tajam terhadap rencana pembentukan entitas Fifa Forward Enterprise (FFE).
Empat jam pascapertemuan rampung, badan sepak bola dunia itu resmi merilis pernyataan sikap bersama yang menegaskan solidaritas internal organisasi.
Konflik ini bermula ketika The Times membeberkan rencana Infantino pada 28 Juli lalu. Proposal tersebut menawarkan dana sebesar 40 juta dolar Amerika Serikat kepada setiap asosiasi anggota apabila mereka menyetujui pelibatan investor swasta termasuk keterlibatan Joshua Kushner, saudara ipar Donald Trump dalam pengelolaan turnamen Piala Dunia pria dan wanita melalui anak perusahaan baru FFE.
Kritik pedas tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari jantung internal FIFA. Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom, yang turut hadir dalam pertemuan di Rabat, sempat melayangkan memo internal kepada para staf pada hari Selasa yang menyebut situasi ini sebagai "rangkaian peristiwa yang menyedihkan dan patut disayangkan."
Kendati demikian, dalam pernyataan resmi pascapertemuan, Grafstrom bersama jajaran dewan manajemen justru "megonfirmasikan kembali dukungan penuh" mereka kepada Infantino sebagai presiden. Infantino dan Grafstrom juga menandatangani surat terbuka yang ditujukan kepada para wakil presiden, anggota dewan, serta 211 asosiasi anggota FIFA.
Dalam surat tersebut, keduanya menyatakan "permohonan maaf yang tulus" atas kekhilafan yang terjadi dan berkomitmen untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang di masa mendatang. Usai agenda tersebut, keduanya bahkan tertangkap kamera tengah menyaksikan langsung pertandingan Piala Afrika Wanita di Rabat.
Pihak FIFA dalam keterangan resminya mengakui adanya kekeliruan terkait proses komunikasi FFE. "Diakui bahwa tidak ada niat sedikitpun agar Dewan FIFA dan asosiasi anggota merasa disingkirkan dari proses tersebut, dan seharusnya penanganannya dilakukan dengan cara yang berbeda," tulis pernyataan resmi FIFA.
Organisasi tersebut juga mengakui adanya kesalahan penanganan pascapemberitaan bocor ke media. Namun, di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa mereka "tidak akan lagi mentolerir segala bentuk serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, serta proses yang berlaku, serta akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi nama baik dan reputasi institusi."
Selain itu, FIFA secara tegas membantah laporan media yang menyebutkan bahwa Infantino menjanjikan Maroko sebagai tuan rumah laga final Piala Dunia 2030 sebagai barter dukungan politik. FIFA melabeli klaim tersebut sebagai informasi yang "palsu dan menyesatkan," seraya menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai venue final yang turnamen utamanya juga akan dihelat di Spanyol dan Portugal akan diumumkan pada waktu yang tepat.
Langkah konsolidasi internal ini diharapkan mampu meredam badai krisis terbesar sepanjang satu dekade masa kepemimpinan Infantino. Walau demikian, jalan pria berusia 56 tahun itu untuk mempertahankan kursi kepemimpinan tidak sepenuhnya mulus.
Tekanan politik eksternal datang beruntun, termasuk dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney, yang menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Desakan mundur juga dilontarkan oleh legenda sepak bola asal Portugal, Luis Figo.
"Infantino telah menurunkan marwah jabatan yang dahulu ia janjikan untuk diangkat," ujar Figo. "Sudah terlambat untuk menyelamatkan martabatnya, tetapi belum terlambat untuk menyelamatkan sepak bola."
Di tengah tekanan tersebut, Infantino bersiap menghadapi pemilihan presiden untuk periode keempat. Para kandidat memiliki batas waktu hingga 18 November untuk mendaftarkan diri, di mana pemungutan suara akan dilangsungkan dalam Kongres FIFA di Maroko pada bulan Maret 2027 mendatang. Untuk meraih kemenangan, seorang kandidat disyaratkan meraup minimal 106 suara dari total 211 asosiasi anggota.
Di sisi lain, Badan Sepak Bola Eropa (UEFA) mengambil sikap konfrontatif yang berbeda. Akhir pekan lalu, UEFA secara terbuka menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino dan melabeli proposal FFE sebagai "kesepakatan terselubung yang licik dan tidak transparan." Sejumlah asosiasi anggota di bawah naungan UEFA, seperti Wales dan Inggris, juga mulai menarik dukungan pencalonan ulang sang presiden.
Meski demikian, kekuatan oposisi menghadapi batu sandungan besar dalam menggalang mosi tidak percaya secara global. Hingga kini, di luar wilayah Eropa dan konfederasi Concacaf, gelombang dukungan dari kawasan Asia dan Afrika justru masih mengalir deras kepada Infantino. Negara-negara seperti Mesir, Maroko, Niger, Mauritania, Republik Demokratik Kongo, serta Filipina secara terbuka kembali menegaskan loyalitas mereka.
Solidnya dukungan negara berkembang tersebut tidak lepas dari sokongan finansial berkelanjutan melalui program Fifa Forward yang mendistribusikan dana pembangunan hingga 8 juta dolar Amerika Serikat bagi setiap siklus tiga tahunan. Tantangan terbesar bagi UEFA kini adalah bagaimana meyakinkan negara-negara penerima manfaat tersebut bahwa kandidat alternatif mampu menawarkan program finansial serupa dengan tingkat transparansi dan reformasi tata kelola yang lebih baik.
Bagi Infantino, krisis kali ini menjadi ujian terberat setelah sebelumnya mampu melewati berbagai polemik kontroversial mulai dari penunjukan kontroversial Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034, pemberian Penghargaan Perdamaian FIFA kepada Donald Trump, hingga polemik indisipliner pemain. Pengunduran diri Carlos Cordeiro selaku penasihat senior strategi global dan tata kelola akibat polemik FFE menjadi sinyal kuat perlunya rekonsiliasi internal yang komprehensif.
Ke depan, Infantino dituntut tidak hanya merajut kembali hubungan baik dengan jajaran pimpinan inti FIFA, tetapi juga menawarkan cetak biru reformasi struktural yang kredibel. Langkah strategis seperti memperketat mekanisme pengawasan atau membuka ruang transparansi cadangan finansial organisasi diprediksi menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan publik sepak bola internasional.









