TVRINews- Middlesbrough
Kisah Chollima Menumbangkan Raksasa Italia di Inggris 1966.
Enam dekade lalu, sebuah romansa unik tercipta di tanah Inggris antara penduduk lokal dan tim debutan Asia yang nyaris tidak dikenal.
Korea Utara, yang dijuluki Chollima, mengukir salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepak bola saat menyingkirkan raksasa Italia pada Piala Dunia 1966.
Selama bertahun-tahun, muncul mitos yang menyebut Pak Doo-ik, pencetak gol kemenangan tersebut, sebagai seorang dokter gigi.
Namun, kenyataannya ia adalah seorang pekerja pabrik percetakan di Pyongyang. Meski bukan tenaga medis, "operasi" yang ia lakukan di lapangan hijau untuk memulangkan Italia dilakukan dengan presisi klinis yang luar biasa.
Dukungan Tak Terduga dari Middlesbrough
Keberhasilan Korea Utara menembus perempat final memiliki banyak lapisan cerita, terutama bagaimana mereka "diadopsi" oleh warga Middlesbrough.
Bek Rim Jung-son mengakui bahwa kedekatan emosional tersebut tetap menjadi misteri bagi para pemain hingga puluhan tahun kemudian.
"Masih menjadi teka-teki bagi saya mengapa penduduk Middlesbrough mendukung kami sepenuhnya sepanjang turnamen. Saya masih tidak tahu apa alasannya," kenang Rim saat mengunjungi kembali kota tersebut pada 2002.
Tumbangnya Superioritas Teknis
Di atas kertas, Italia yang diperkuat bintang seperti Gianni Rivera diprediksi akan menang mudah.
Rivera sendiri mengakui bahwa timnya merasa terlalu percaya diri sebelum pertandingan di Ayresome Park tersebut dimulai.
"Kami yakin karena hanya butuh hasil imbang, kami tidak akan menemui masalah melawan tim yang kami anggap jauh di bawah level kami," ujar Rivera.
Namun, permainan kolektif Korea Utara membuktikan sebaliknya. Pak Doo-ik berhasil memanfaatkan umpan sundulan dan melepaskan tembakan yang tak mampu dihalau kiper Enrico Albertosi.
Dalam dokumenter The Game of Their Lives, Pak menjelaskan kunci kemenangan mereka:
"Kami melihat kemenangan kerja sama tim di atas superioritas teknis. Italia kalah dalam pertempuran mental, dan setelah kebobolan, mereka bermain secara individu, bukan sebagai sebuah tim."
Menjaga Gawang dengan Nyawa
Italia terus menggempur di babak kedua, namun kiper Ri Chan-myong tampil tak tergoyahkan. Baginya, menjaga gawang bukan sekadar tugas atletik, melainkan sebuah tanggung jawab nasional.
"Di belakang saya ada gawang, namun di belakang gawang itu ada negara kami. Jika saya kebobolan, reputasi negara akan jatuh, maka saya menjaga gawang itu dengan nyawa saya," tegas Ri.
Meski langkah heroik mereka akhirnya dihentikan oleh Portugal di perempat final dengan skor 5-3, memori Piala Dunia 1966 tetap menjadi bukti sejarah bahwa tekad dan kerja sama mampu mengguncang tatanan sepak bola dunia. Mereka datang sebagai orang asing, namun pulang sebagai pahlawan yang memenangkan hati publik Inggris.










