
Ilusrasi topeng gulat Meksiko. (TVRI/Grafis Jovi Arnanda)
Penulis: Muhammad Ridwan
TVRINews - Monterrey, Meksiko
Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan, tetapi momen untuk menampilkan budaya mereka kepada dunia.
Meksiko tengah bersiap menyambut Piala Dunia 2026. Di balik gemuruh stadion, sorak-sorai suporter, dan euforia sepak bola, ada simbol budaya unik yang siap menambah warna yakni masker Lucha Libre atau topeng gulat.
Tradisi gulat Meksiko ini bukan hanya bagian dari ring pertarungan. Melainkan juga kini merambah ke dunia sepak bola dan menjadi simbol identitas yang akan terlihat di seluruh kota tuan rumah Piala Dunia 2026, dari Mexico City hingga Guadalajara dan Monterrey.
Di kawasan Iztapalapa, pinggiran Kota Meksiko, Guadalupe Zuniga tengah mengelola pabrik masker yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Putri dari pegulat legendaris almarhum Angel Azteca ini tumbuh di tengah dunia gulat, menyaksikan ayahnya mengenakan masker dan menaklukkan ring.
Pengalaman dan cinta Zuniga pada dunia gulat itu diubah menjadi bisnis yang tengah bersiap menyambut lonjakan pengunjung Piala Dunia 2026. Di pabriknya, timnya memproduksi rata-rata 300 masker setiap minggu, sebagian besar untuk penggemar lokal, turis, dan kolektor yang mengincar masker kustom dengan desain unik.
“Kami memperkirakan penjualan akan meningkat drastis karena datangnya banyak pengunjung asing. Lucha Libre dan masker adalah simbol Meksiko yang tak tergantikan, dan kami berharap toko-toko yang bekerja sama dengan kami akan meminta lebih banyak produk ini,” kata Zuniga kepada The Associated Press.
Zuniga bekerja erat dengan pegulat terkenal seperti Tinieblas, Blue Panther, Último Guerrero, dan Mascara Sagrada. Masker-masker ini sebagian besar dibuat tangan, dengan pengerjaan yang bisa memakan waktu hingga dua hari, terutama untuk versi kustom yang memiliki detail rumit.
Bisnis masker Lucha Libre telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya jumlah kolektor. Padahal, sebelumnya belum banyak orang yang mau membeli topeng gulat tersebut.
“15 tahun lalu, tidak banyak orang yang berkata, ‘Saya punya 30 masker di rumah.’ Sekarang, ada penggemar yang memiliki 50 hingga 100 masker. Bisnis ini benar-benar berkembang, terutama dengan datangnya turis yang singgah ke toko-toko untuk membeli satu atau lebih masker sebagai kenang-kenangan,” ucapnya.
Di kota-kota penyelenggara Piala Dunia 2026, masker Lucha Libre tersedia dalam berbagai harga. Versi sederhana dijual mulai 50 peso atau sekitar Rp49 ribu, sementara versi kustom bisa bernilai ratusan peso, tergantung tingkat kerumitan dan desainnya.
Masker ini tidak hanya menjadi suvenir, tetapi juga bagian dari pengalaman budaya Meksiko yang dihadirkan ke pengunjung dari seluruh dunia. Para pedagang di sekitar Arena Mexico bahkan sudah bersiap menyambut gelombang pengunjung yang datang selama Piala Dunia 2026, berharap topeng gulat tersebut akan menjadi suvenir populer yang dibawa pulang penggemar.
Sejarah masker di Meksiko sendiri panjang dan kaya makna. Dipercaya, pegulat Amerika Corbin James Massey adalah yang pertama mengenakan masker di Meksiko pada 1933 dengan nama panggung “Cyclone Mackey”. Setahun kemudian, ia ingin bertanding lagi tetapi tidak ingin dikenali, sehingga memesan masker kepada pengrajin lokal Antonio Martinez.
Massey kemudian bertanding dengan alias Maravilla Enmascarada atau Masked Marvel, memulai tradisi yang diikuti pegulat Meksiko lain seperti Jesus “Murciélago” Velazquez pada 1938, dan ikon Santo, Blue Demon, serta Huracan Ramirez pada 1950-an. Masker memungkinkan pegulat menjalani dua kehidupan, satu di ring dan satu di luar ring, menciptakan aura misteri dan kekuatan simbolik yang melekat pada identitas mereka.
Tradisi ini kini meluas melampaui ring gulat. Masker Lucha Libre muncul di Formula 1, sepak bola, dan bahkan menjadi simbol kebanggaan nasional Meksiko. Pembalap Sergio Perez mengenakan helm khusus yang terinspirasi masker Lucha Libre pada balapan Formula 1 Grand Prix Meksiko, sementara pemain baseball Randy Arozarena pernah memakai topeng gulat sebagai jimat keberuntungan.
Belum jelas kapan penggemar mulai memakai masker di stadion sepak bola, namun olahraga itu dan Lucha Libre adalah dua hiburan favorit masyarakat Meksiko. Adidas, perusahaan asal Jerman yang mensponsori Timnas Meksiko, pernah membuat jersei terinspirasi Rey Mysterio, pegulat Meksiko-Amerika yang populer di kedua sisi perbatasan, untuk Piala Dunia 2014.
Para pegulat profesional Meksiko juga menyadari dampak sosial dan budaya masker di luar ring. “Tak ada rahasia bahwa jika Anda melihat seseorang mengenakan masker, kemungkinan besar itu orang Meksiko. Masker ini bukan sekadar kostum, tapi simbol identitas dan kebanggaan kami,” kata pegulat Magnus
“Lucha Libre menembus batas negara, dan Piala Dunia adalah momen sempurna untuk menunjukkan itu. Masker memungkinkan orang mengekspresikan diri dan menunjukkan rasa hormat mereka kepada budaya Meksiko.”
Meksiko akan menjadi tuan rumah 13 pertandingan Piala Dunia 2026. Guadalajara dan Monterrey masing-masing menggelar empat laga, sedangkan ibukota, Mexico City, menyelenggarakan lima pertandingan. Otoritas setempat memperkirakan sekitar lima juta wisatawan akan datang selama turnamen berlangsung.
Dari ring gulat hingga stadion sepak bola, topeng-topeng itu akan membungkus wajah penggemar dengan cerita, sejarah, dan warna budaya Meksiko yang tak tergantikan. Bagi Zuniga dan banyak pengrajin lainnya, Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan, tetapi momen untuk menampilkan budaya mereka kepada dunia, memastikan masker Lucha Libre menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan sepak bola terbesar di planet ini.
Editor: Muhammad Ridwan
