
Italia juara Piala Dunia 1934 dengan label miring yang melekat sampai sekarang.
TVRINews - Jakarta
Pengaruh fasisme di bawah pemerintahan Benito "Il Duce" Mussolini melekat dalam gelar Italia di depan publiknya pada Piala Dunia 1934. Namun, selain label miring tersebut, rasanya tak berlebihan juga kalau menilai bahwa Italia mempunyai skuad berkapasitas juara.
Di balik kesuksesan Italia di rumah itu, nama pelatih Vittorio Pozzo akan dikenang, tapi kembali membawa serta Mussolini dengan segala propagandanya di Piala Dunia 1934 ini. Pozzo mengaku bahwa sang diktator secara pribadi memintanya hanya memasukkan nama anggota Partai Fasis ke dalam skuad Gli Azzurri. Para pemain yang masuk tim konon menyatakan bahwa mereka hanya tertarik pada sepak bola. Akan tetapi, mereka enggak punya pilihan selain mendukung latar politis itu dengan alasan nasionalisme.
Apa pun, Pozzo memakai pendekatan yang enggak jauh juga dari Il Duce. Pozzo, yang sebelum melatih berprofesi sebagai jurnalis, dikenal otoriter juga saat melatih. Di sisi lain, ia sangat taktis.
Menurut The Athletic, Pozzo dianggap sebagai salah satu pelatih yang memperkenalkan "metodo", modifikasi formasi 2-3-5 menjadi lebih bertahan. Sayap di lini tengah menempati posisi seperti bek sayap sepak bola modern. Penyerang-penyerang sisi dalam lebih mundur ke tengah. Pendekatan itu tampak mirip dengan skema 4-3-3 yang populer saat ini.
Detail penting adalah peran gelandang tengah yang sebelumnya ofensif. Perubahan aturan off-side membuat Pozzo memundurkan gelandang tengah, dan sering ditugaskan menjaga ujung tombak lawan. Luis Monti menjalankan peran tersebut dengan baik, terutama ketika mematikan jagoan Austria, Matthias Sindelar, di semifinal.
Alhasil, di bawah Pozzo, Italia menjadi tim yang solid, waspada, dan mengandalkan fisik. Banyak pendapat bahwa kecenderungan Italia defensif setelahnya, hingga dikenal luas dengan nama catenaccio, berawal dari gagasan Pozzo di Italia 1934 ini.
Di balik penanganannya, Pozzo kerap membuat dahi pendukung berkernyit. Metode pemanggilan pemain yang dibuat sosok berjulukan Il Vecchio Maestro atau Sang Maestro Gaek itu pun mengundang tanda tanya, terutama pada Attilio Ferraris. Gelandang tangguh itu sudah tidak bermain untuk Italia selama satu setengah tahun. Ferraris juga dipecat AS Roma tiga bulan sebelum turnamen karena alasan mengalami kecanduan alkohol dan perjudian.
Pozzo memiliki ide lain. Ia mengajak Ferraris ke Danau Maggiore tempat pemusatan latihan sebelum Piala Dunia. "Tinggalkan rokok, minuman, dan bola biliarmu segera. Ikutlah, dan Anda akan memiliki kesempatan bermain di Piala Dunia," ucap Pozzo seperti dikutip dari situs FIFA. Ferraris menurut meski mabuk.
Gampang ditebak. Media Italia menyorot Pozzo. "Mereka bilang saya gila!" ujar Pozzo. Pada akhirnya, menurut Pozzo, Ferraris menjadi pemain paling bugar di kamp latihan Gli Azzurri.
Lain lagi pendekatan Pozzo terhadap kiper Gianpiero Combi. Pozzo membujuk Combi yang menua untuk menunda keputusan pensiunnya buat mengatasi absennya kiper pertama, Carlo Ceresoli, gegara cedera lengan. Langkah ini tak lepas pula dari sorotan publik.
Belum lagi pilihan Pozzo yang ngeri-ngeri sedap. Monti dan Angelo Schiavio saling membenci. Pozzo bakal dimaklumi kalau hanya mengambil salah satu dari mereka. Namun, Il Vecchio Maestro enggak cuma mengambil keduanya, tetapi juga mengumumkan bahwa mereka akan tidur sekamar selama dua bulan pemusatan latihan pra-Piala Dunia di Pegunungan Alpen Barat.
Meazza Plus Bajak Argentina
Italia memiliki banyak pemain yang membuat mereka solid. Monti bermain di final Piala Dunia 1930 membela Argentina. Karena memegang paspor Italia, ia direkrut Juventus. Pozzo pun menariknya ke Gli Azzurri, dan ini dimungkinkan karena FIFA belum mengatur perubahan kewarganegaraan dan pergantian timnas. Monti pun menjadi satu-satunya pemain yang tampil di dua final Piala Dunia dengan dua tim berbeda.
Pembajakan Italia atas Argentina terlihat pula pada dua pemain lagi. Sayap kiri Raimundo Orsi berganti kewarganegaraan dan timnas (ia sudah 12 kali membela Argentina) juga setelah dibeli Juve. Sayap kanan Enrique Guaita memilih Italia, dengan catatan empat kali tampil berseragam Albiceleste, setelah direkrut Roma. Orsi dan Guaita bukan orang Italia tulen, hanya berdarah Italia.
Gli Azzurri memiliki pula bintang Piala Dunia 1934 dalam Giuseppe Meazza. Sejatinya bek, Meazza beralih menjadi striker dan kemudian penyerang lubang. Meazza mempunyai catatan gol yang mengesankan buat Italia, tapi sering tampil menawan dengan dribel dan pengatur serangan sekaligus pembuat pencipta peluang.
Di Italia 1934, Meazza menjadi salah satu dari lima pemain yang selalu bermain di lima pertandingan yang dilewati Italia hingga ke tangga juara. Gol pentingnya datang ketika meloloskan Italia melewati adangan Spanyol di perempat final. Aksi Meazza, dalam keadaan cedera sehingga luput dari perhatian Cekoslowakia, di final mengawali gol yang memastikan gelar.
"Punya dia dalam tim kayak memulai laga dengan keunggulan 1-0," puji Pozzo pada Meazza.
Kualifikasi sampai Podium
Perjalanan Italia tidak mudah juga. Azzurri langsung membuat catatan unik, yang bertahan sampai sekarang, sebagai tuan rumah yang mesti melewati kualifikasi. Artinya, Gli Azzurri bisa saja enggak tampil bila gagal menyingkirkan Yunani. Beruntung Italia bisa menang 4-0, sebelum Yunani secara mengejutkan mundur dari leg 2.
Italia kemudian membabat AS dengan skor 7-1 di ronde pertama atau 16 Besar. Azzurri kemudian menekuk Spanyol di perempat final melalui laga ulang, sebelum mengempaskan Wunderteam Austria di semifinal. Mental juara Italia terlihat di final, bangkit dari ketertinggalan untuk menang 2-1 atas Cekoslowakia.
Meski mendulang kesuksesan, Italia tampak sulit menepis anggapan bahwa gelar ini sebagian besar karena faktor tuan rumah. Tudingan telah melakukan kecurangan, tekanan brutal tifosi terhadap lawan, pragmatisme sampai bermain keras yang mencederai lawan, hingga bantuan wasit mesti ditelan Italia. Butuh empat tahun lagi buat Gli Azzurri untuk memperlihatkan kualitas sejati mereka.
Skuad Italia di Piala Dunia 1934:
Kiper: Gianpiero Combi (klub Juventus), Giuseppe Cavanna (Napoli), Guido Masetti (Roma);
Bek: Luigi Allemandi (Ambrosiana-Inter), Umberto Caligaris (Juventus), Eraldo Monzeglio (Bologna), Virginio Rosetta (Juventus);
Gelandang: Luigi Bertolini (Juventus), Armando Castellazzi (Ambrosiana-Inter), Attilio Ferraris (Roma), Giuseppe Meazza (Ambrosiana-Inter), Luis Monti (Juventus), Mario Pizziolo (Fiorentina), Mario Varglien;
Penyerang: Pietro Arcari (Milan), Felice Borel (Juventus), Attilio Demaria (Ambrosiana-Inter), Giovanni Ferrari (Juventus), Enrique Guaita (Roma), Anfilogino Guarisi (Lazio), Raimundo Orsi (Juventus), Angelo Schiavio (Bologna).
Pelatih: Vittorio Pozzo.
Editor: Christian Gunawan
