
Striker AS Roma kelahiran Sydney yang baru berusia 16 tahun, Antonio Arena, mencuri perhatian Socceroos usai mencetak gol di Coppa Italia.
Penulis: Kunta Bayu Waskita
TVRINews-Roma, Italia
Saat ini Antonio Arena memiliki dua paspor yakni Italia dan Australia, tapi lebih sering membela timnas junior Italia.
Antonio Arena, penyerang asal Australia yang baru berusia 16 tahun, membuat kejutan besar dalam debut profesionalnya bersama klub Serie A (Liga Italia), AS Roma.
Ia mencetak gol dengan sentuhan pertamanya dalam pertandingan Coppa Italia melawan Torino, Senin (19/1/2026) lalu. Aksi luar biasa ini membuat dunia sepak bola terhenyak dan menimbulkan pertanyaan besar soal masa depannya dengan Timnas Australia.
Arena, yang lahir di Sydney dan tumbuh melalui akademi Western Sydney Wanderers, masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua saat Roma tertinggal 2-1 dari Torino.
Dengan tinggi badan menjulang dan insting gol yang tajam, ia berhasil menyundul bola dari umpan silang ke gawang hanya beberapa detik setelah masuk lapangan, menyamakan skor menjadi 2-2 di Stadion Olimpico. Momen itu menjadi catatan sejarah, karena golnya terjadi hanya dengan satu sentuhan pertama di level profesional.
Gol spektakuler ini tetap dikenang meskipun I Giallorossi akhirnya kalah 2-3 akibat gol menit-menit akhir dari Torino. "Mungkin kita sedang menyaksikan kebangkitan bintang baru,” kata komentator pertandingan yang menggema di kalangan penggemar sepak bola Australia.
Dikutip dari Goal.com, pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, memuji mental juang dan energi Arena meskipun usianya masih sangat muda. Gasperini menekankan bahwa perkembangan pemain muda seperti Arena merupakan proses penting, dan penampilan ini baru langkah awal dari kariernya di sepak bola profesional Eropa.
Sebelum bergabung dengan Roma pada Juli 2025, Arena telah menunjukkan bakat luar biasa di klub Italia lain, Pescara, di mana ia mencetak gol pada debut seniornya di Serie C. Saat itu, golnya membuatnya menjadi pemain kelahiran 2009 pertama yang mencetak gol dalam kompetisi profesional Italia.
Selain itu, ia juga menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Pescara, memecahkan rekor pemain terkenal Marco Verratti. Namun, capaian brilian Arena bukan hanya dalam level klub. Ia juga sempat bermain untuk Australia U-16 dalam laga persahabatan melawan Swis pada 2024.
Arena kemudian lebih sering bermain untuk tim junior Italia U-16, U-17, dan U-18, berkat status kewarganegaraan ganda yang dimilikinya.
Arena memiliki kedua kewarganegaraan, Australia dan Italia, karena kakek neneknya berasal dari Italia. Karena itu, gol debutnya di Roma memicu perdebatan sengit: Akankah Arena memilih membela The Socceroos atau timnas Italia di masa depan? Banyak pengamat sepak bola Australia berharap dia memilih Socceroos dan menjadi penerus striker legendaris seperti Mark Viduka.
Pada Juli 2025, ia direkrut oleh AS Roma, tempat legenda seperti Francesco Totti dan Mohamed Salah menorehkan nama mereka, dengan biaya transfer setara 1,78 juta dolar AS (sekitar Rp30 miliar).
Ia makin bersinar di Piala Dunia U-17 November 2025 lalu di Qatar, mencetak dua gol dan memberikan dua assist. Tapi, Arena waktu itu tidak membela Australia. Ia bermain untuk Italia yang finis posisi ketiga berkat paspor ganda yang dimilikinya. Kakek-neneknya bermigrasi ke Australia dari negara kelahiran mereka, dan mendapat pujian besar di media Italia.
“Antonio Arena itu pemain seperti apa? Dia seorang striker dan memiliki karakteristik baik sebagai pemain nomor 9 maupun 11,” kata jurnalis sepak bola Andrea Barilaro di La Gazzetta dello Sport pada Piala Dunia U-17 2025 lalu.
“Dia kuat secara fisik, menyerang ruang kosong, merangkai permainan, meninggalkan jejaknya, dan mencetak gol. Dan dia tidak takut," ia menambahkan. “Saat kecil, dia mempelajari Ronaldo sang Fenomenal. Saat ini, dia menyerupai Ronaldo lainnya, CR7, yang dari Portugal, untuk gerakan-gerakan tertentu di lapangan, dan terutama untuk dedikasinya dalam bekerja,” kata Barilaro.
Namun situasi kewarganegaraannya menambah kompleksitas pada pilihan tersebut.
Dengan kecepatan pertumbuhan karier yang luar biasa dan perhatian global yang kini tertuju padanya, masa depan Antonio Arena menjadi salah satu cerita paling menarik di sepak bola dunia saat ini. Meski demikian bagi fans Socceroos, harapan akan kiprah sang wonderkid bersama Timnas Australia masih tetap hidup.
Perjuangan kini tampaknya akan dilakukan oleh para pejabat Australia untuk membuat Arena berkomitmen pada masa depannya bersama Socceroos.
Situasi seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tubuh Timnas Australia. Cristian Volpato, yang juga muncul di kancah sepak bola Roma tetapi sekarang bermain untuk Sassuolo di Serie A, menolak kesempatan untuk bermain di Piala Dunia 2022 untuk Australia. Gelandang serang sekaligus pemain sayap ini memilih untuk fokus berusaha mendapatkan panggilan ke Timnas Italia setelah bermain di level junior untuk Gli Azzurri.
Sementara itu, bek berusia 22 tahun, Alessandro Circati, yang juga bermain di Serie A untuk Parma, memilih Australia dan sejak itu menjadi kapten Socceroos.
Masih harus dilihat jalan mana yang akan diambil Arena, tetapi mungkin saja pelatih Australia, Tony Popovic, akan mengiming-iminginya dengan Piala Dunia 2026 berdasarkan apa yang telah ia tunjukkan sejauh ini.
Editor: Kunta Bayu Waskita
